Showing posts with label Thoughts. Show all posts
Showing posts with label Thoughts. Show all posts

Wednesday, February 13, 2019

Dram Dram Drama

"I cannot tell what you and other men
Think of this life; but, for my single self,
I had as lief not be as live to be
In awe of such a thing as I myself."
- Julius Caesar



Sebenernya udah tau dari dulu.
Tapi hari ini kembali tersadarkan.
Bahwa memang setiap orang punya drama hidup masing-masing.
Kalo dilihat-lihat ulang, ya memang my life is full of drama.
Drama that noone knows unless I told them myself.
Dan kalo dilihat lebih teliti, setiap orang telah/sedang menjalani drama hidupnya masing-masing.

And it is everyone's desire to find someone who is fully aware of this and is willing to be in it with you.


Yah, beginilah, me and my drama life.
I think you should have known 80% of it by now.
Hope you are still as excited as you ever been to spend the rest of it with me :))
Cheers for the not-so-fuc*ed-up life.
Share:

Thursday, October 11, 2018

Kamis Pagi di Stasiun Sudirman

Kuputuskan berangkat pagi benar.
Sebelum matahari mulai menyengat dan kelembaban meningkat seiring dengan peningkatan emosi.
Naik commuter adalah satu-satunya alasan yang paling rasional, walau kadang kurang 'manusiawi'.
Setengah 6 sepertinya waktu yang tepat sebelum puncak ketidakmanusiawian jalur commuter yang akan aku naiki.
Walau harus menanggung resiko menunggu 1 jam lebih.
Resiko yang sekali lagi lebih manusiawi dibanding harus berdesakan diantara campuran aroma bedak, sabun, parfum dan minyak angin.
Berjuang nyari tumpuan dan pijakan.

Dan setengah 6 terbukti adalah waktu yang tepat untuk naik commuter dari daerah Jakarta Selatan yang kata anak Jaksel tergolong Depok ini.



Kuputuskan duduk nunggu di kursi peron.
Masih mengutuk ketidakbecusan lembaga pemerintah yang akan aku datangi.
Demi selembar A4 yang ga kunjung selesai berminggu-minggu.


Di ujung kursi satunya duduk Bapak-Bapak udah lumayan berumur.
Tinggi sedang, badan bisa dibilang agak sedikit kurus, kulit keriput gelap terbakar matahari.
Celana bahan hitam, sendal hitam, dan jaket kain berwarna hitam merah dengan sejumlah huruf di bagian punggung.
Beliau turun dari kereta yang berhenti setelah kereta yg aku naiki.
Duduk sekitar 10 menitan.
Sesekali terlihat memijati kakinya.


Sementara di peron seberang terlihat seorang Bapak yang lebih muda dari Bapak di sebelah ku ini.
Kaos lengan pendek dengan warna kuning pudar, celana pendek, dan sendal jepit.
Tertidur pulas bersandar pilar iklan di peron stasiun.
Di lantai, tanpa alas.



Setiap 5-15 menitan kereta berhenti dan ratusan manusia berhamburan keluar dari gerbong.
Pria, wanita. Tua, muda. Modis, sederhana.
Kebanyakan mengenakan headset, masker, atau jalan sambil melihat handphone.
Mungkin lagi mesen ojol.
Kebanyakan terlihat mengenakan ransel, yang beberapa bisa dibilang terlihat usang.
Sebagian lain dengan handbag berkulit sintetis yang banyak di jual di pasar maupun salah satu mall yang hampir setiap hari masang diskon gede2an.
Hanya 1 2 yang terlihat dengan tas ber-label internasional brand berharga jutaan rupiah.
Sama halnya dengan sepatu/sendal yang dikenakan.

Ga sedikit yang bawa ransel dengan beban yang lumayan.
Atau goodiebag dengan ukuran bervariasi dari satu orang dan orang lain.
Sepertinya kebanyakan berisi bekal makan siang.
Terlihat juga penumpang yang membawa troli (papan beroda yang ditarik tangan) yang di atasnya diletakkan tas goni plastik bentuk kotak (yang dulu waktu kuliah aku juga pake buat isi barang, berguna untuk pindahan).
Ntah apa isinya.


Lama aku duduk.
Melihat ribuan langkah cepat dan tergesa-gesa.
Ribuan langkah yang beresonansi, sarat akan tujuan yang kurang lebih sama:
belanja harian, uang sekolah anak, kredit kendaraan, dan kredit rumah


Kemudian aku teringat cuplikan video di timeline medsos yang menginterview sejumlah mahasiswa di Jabodetabek mengenai the money value of the fashion yang mereka kenakan.
Jujur aku tercengang ketika melihat clip tersebut.
Mahasiswa2 yang diinterview di clip ini, ketika di total, mulai dari kepala sampe kaki, yang mereka kenakan bisa bernilai puluhan hingga ratusan juta.
Bahkan salah satunya mengenakan jam tangan dengan harga ratusan juta.
WTF.



Dalam hati masih aja bertanya kenapa Allah menciptakan manusia.
Share:

Wednesday, June 06, 2018

Ramadhan 1439 H

Udah bertahun-tahun ga ikutan tarawih berjamaah di Masjid dekat rumah.
Masjid paling dekat rumah, yang di Gg. Kopral.
Yang cuma 5 menit jalan kaki.
Biasanya, dulu, kalo tarawih, pasti ke Masjid Jl. Cipto.
Yang lebih besar. Lebih rame. Tapi lebih jauh.
15 menit jalan kaki.

Kapan ya, terakhir sholat disini.
Ga ingat.
Kayaknya dulu pernah sih disini.
Setelah marbot Masjid Jl. Cipto ganti sama sekelompok orang bersorban.
Tarawih yang tadinya 11 rakaat jadi 23 rakaat.
Trus agak beda aja sama yang dulu-dulu.
Sejak itu, kalo ga salah, udah jarang sholat disana.


Selalu suka tarawih di Siantar.
11 rakaat tapi sering ada ceramah-ceramah singkat diantara isya dan tarawih.
Sholatnya santai, ga buru-buru kayak dulu di Bogor waktu S1.
Bilal nya juga enak didengar.
Bacaannya lebih lengkap, dibanding di Bogor, ataupun di Jakarta.
Dari dulu selalu suka sama bilal tarawih.
Malah dulu semangat banget tarawih di Jl. Cipto kerna bilalnya.
Hahaha. Receh.


Semalam, topik ceramahnya tentang doa.
10 menit. Sederhana.
Bahwa doa ga selalu diijabah secara langsung, tapi bisa jadi dijawab melalui hal lain.
Bapaknya juga mengingatkan kalo berdoa yang positif-positif.
Walaupun benci sama orang, bukan berarti lantas mendoakan yang buruk-buruk untuk orang tersebut.
Termasuk dalam konteks lebih besar.
Suka sama suara lembut Bapak ustadz nya.
Suka juga sama topiknya.


Jadi keingat, beberapa malam lalu, Ibunya temen dengerin ceramah dari laptop sambil kerja di meja makan.
Ntah dari youtube atau dari mana, ku lagi bantuin masak di dapur.
Jadilah ikutan denger itu ceramah.
Ga yakin apa memang kebetulan topiknya begitu, atau memang kebetulan lagi dengerin ustadz yang memang ahli di topik ini.
Intinya dari sebagian ceramah yang terdengar, isinya membandingkan antara Islam dan Kristen.
Berat. Bahkan membahas mengenai 'Allah' dan 'Tuhan'.
Perbedaan konteksnya dalam Islam dan Kristen.
Dan, ntah ini subjektif pribadi atau gimana, sangat menekankan bahwa 'this one is right and that one is wrong'.
Dengan agak sedikit bersemangat.
Bahkan, menganjurkan pendengar untuk mencoba mengajak umat non-Muslim berdiskusi, termasuk mengenai topik tadi.
Beliau bilang agar saling memahami ajaran masing-masing.


Sebenarnya dari awal dengerin ceramahnya, udah ngerasa super gregetan.
Gregetan aja, sama tipe-tipe ceramah yang secara halus menebar kebencian model gini.
Ya buat apa sih ngebanding-bandingin.
Kenapa ga fokus di mengingatkan untuk berbuat kebaikan aja.
... and I'm fully aware that this is fully my own subjective.
Yah, mungkin memang beda audiens dan beda acara kali ya, jadi beda konteksnya.
Mbuh lah.

Paling kaget ketika dengar Bapaknya justru mengajurkan untuk mengajak diskusi.
'Wah, this is totally the opposite dari apa yang diajarkan guru agama dulu'
Dulu, guru agama, ataupun murobbiyah, menekankan banget untuk ga 'sok tau' soal agama,
terlebih ke penganut agama lain, kalo memang masih belum menguasai dengan benar.
Khawatir malah menyampaikan hal yang salah.
Hmm..
Yaudah, gitu aja.


Annyeong.
Share:

Saturday, May 26, 2018

If Only

If only we can hear each other mind
Will it be better?
Or worse?


I'm tired of trying to say the things in my head
and trying to see what other people think about

I'm not sure if words are enough
Even sometimes they make things more confusing


If only we can hear each other mind
...and understand each other without saying much


But maybe I need to hear my mind
and understand what's really going on in my head
Share:

Wednesday, May 23, 2018

Tuhan Dimana?

Ayumi (3 yo): [Nunjuk imam tarawih] "Bun*, itu Tuhan?"
Sarifah (22 yo): "Bukan Yum, itu imam sholat."
Ayumi: "Trus, Tuhan dimana?"
Sarifah: [Bengong] ".. Tuhan itu jauh, Yum."
*Bun aka. Bunde aka. Bude aka. Tante


Ayumi ni emang terlalu bijak & kritis (& kurang ajar kadang, hahaa).
Kadang suka lupa kalo doi masih 3 tahun.
Terlalu dewasa untuk anak seusia dia.
Bingung ya, susah ternyata ngedidik anak itu.
Trus keinget mata kuliah Psikologi Anak sama Perkembangan Keluarga yang dulu sempat diambil jadi supporting course.
Aneh banget yak, jurusan Meteorologi Terapan tapi supporting course-nya dari IKK.
Ya sebenernya dulu maunya Minor Tekling, tapi apa daya jadwal ga cocok.
Yaudah sekalian ambil IKK yang pasti bakal kepake, bakal dipraktekin.
Kepengen Minor Fisika Modern juga tapi males banget kalo mesti ngambil elektronika.



Back to topic.
Kalo ada anak kecil nanya Tuhan dimana, baiknya jawab apa sih?
Soalnya aku juga ga tau jawabannya. Haha #tawagetir

Jadi ingat dulu waktu masih SD sering banget nanyain Mamak hal-hal aneh.

"Mak, kalo umur & rejeki udah ditentuin Allah dari sejak kita lahir,
ngapain kita masih berdoa minta dikasih umur panjang sama rejeki berlimpah?"


"Mak, kenapa sih sholat mesti ngehadap Ka'bah?
Kayak seolah-olah kita menyembah Ka'bah gitu ya.
Padahal Ka'bah itu kan cuma bangunan kotak ditutup kain hitam.
Apa bedanya kita sama orang Hindu yang nyembah patung.
Trus kan katanya Allah ada dimana-mana."


Trus, Mamak cuma bilang:
"Ga usah kau pikirin kali hal-hal kayak gitu, gilak nanti kau."

Hahahahaha
Sampe sekarang juga masih suka nanya hal-hal aneh yang seharusnya ga ditanya sih.
Makanya pasti bingung kan kalo ditanyain anak kecil gitu.

Selama ini alasan kenapa suka banget sama ilmu fisika modern juga gegara penasaran aja sih.
Penasaran sama Allah.
Eh, maksudnya, sama ciptaan-Nya.
Dan semua penjelasan dibalik itu semua..

Duh, jadi kepengen beli teleskop lagiiiii.
Tapi disini mah susaaah makenya.
Heu
Share:

Tuesday, April 17, 2018

Tell Me Something Good

"I know and that's why I can't have you tied to me. I don't want you to miss all the things that someone else can give you. And selfishly I don't want you to look at me one day and feel even the tiniest bit of regret or pity."

Been wanting to read Jojo Moyes books for long, but ended up watching it first.
Actually, I never wanted to watch movies or read books if it doesn't have a happy ending.
And I didn't know that 'Me Before You' is one of them.
But, strange enough, I didn't feel as much betrayed after I finished watching it.
I didn't feel as sad as I usually do.
It just made me.. helpless.. and depressed.
*well, I guess it does sound like 'sad'
And the aftereffect lasts even until now.


Sebenernya sempat ngerasa (dan berharap) Will bakal berubah pikiran, but he didn't.
Trus aku jadi kepikiran.
Kalau dia memang benar-benar sayang, kenapa dia memilih untuk mati?
Apakah memilih untuk mati menunjukkan kalau dia lebih sayang, atau justru egois?
Mungkin bisa jadi keduanya.
He didn't have any other option whatsoever.
And I guess deciding to let her go, or in this case, deciding to go himself, is for a greater good.


Trus jadi teringat obrolan tentang lirik lagu Dewa19, Dewi, di mobil 2 malam lalu.
Bahwa ketika mencintai seseorang, akan lebih mudah untuk mati lebih dulu,
daripada harus menjadi orang yang harus melanjutkan hidup tanpa orang yang dicintai.

Sejujurnya sampai sekarang masih agak sedikit mengganjal.
Emang bener ya?
Bukannya sama-sama susahnya?
Apalagi mengingat ketika kamu yang mati, kamu ga punya pilihan lain.
Tapi kalau kamu yang melanjutkan hidup, at least kamu masih punya kesempatan lain.
Banyak kan, orang yang ditinggal mati suami/istri nya, lalu kemudian menikah lagi dan menemukan kebahagiaan lain.
Namanya juga manusia, natural instinct to survive.
(Trus kembali ke pertanyaan lama, kalau kayak gitu, jodohnya yang mana? Halah..)


Tapi kayaknya dua hal ini bukan hal yang sebaiknya dibahas berlarut-larut.
Apalagi kalau menyangkut soal mati.
Apapun mengenai kematian adalah sebuah misteri sampai kamu ngerasain sendiri.


The main point is I really enjoy the film. That's it. Annyeong.
Share:

Thursday, January 04, 2018

Yet, We Are Merely Human After All

It's already the third week of December and this is my first post this month.
Sigh
Been refraining myself to write anything but the internship report.
Turned out I just refraining my ability to write anything because of too many thoughts that piling up and absorbing my energy.
And the determination to write the internship report is left as a spoilt motivation.


So many things happened these few weeks.
I moved to a new apartment, 40 minutes away from the office (25 minutes tram and 15 minutes walk).
My new landlady is a very nice person.
I went to Paris with Dissa as a weekend getaway.
My birthday.
My simulations..
But I will talk about that later, in detail.
This is not my first intention to write this post.


I've been shocked by the news about Jonghyun suicide since yesterday.
I didn't expect that it would hit me this hard, but apparently, it did.
To the point that I couldn't sleep up till half past 3 this morning.
I am not even a shawol.
And I couldn't imagine what if I am.


Most people might say that I'm too much.
I agree.
People might say that my opinion is biased, as I'm a Kpop lover myself.
I agree.
And of course, Shinee is one of the groups that made me fall in love in Korean pop song.

But almost no opinion is unbiased.
Aren't all the things in this world relative?
Relative to your position? and your point of view? and your time? your perspective?
That's why I never want to judge people for whatever things they do.
I tried hard not to put a true or false label on other people actions.
I don't have the right to judge people as I never stand on their point.
So I never know every aspect of their life.


I feel so sad that some of my friends and even families, easily put label on people just because of the general knowledge about their community.
And it is unfortunate that some people find other people are not worth as much just because they have different religions.
I'm not saying that it is right to mourn over one single Korean singer who committed suicide and not to mourn over thousands of people in Palestine who struggled in a long-lasting war with Israel.

War (+politic, +religion) and mental health are definitely two different issues.
Please understand that it is easier for most people to relate to the latter topic as it is something that many people experienced.
Something that most people can relate to, it is so close in their daily life.
Of course, not many people would be able to imagine what it feels like to be living in a conflict country for a long time.
And the inability to 'appropriately' react to this issue doesn't mean that they are not HUMAN.


_________________________________________________________

Actually, I still have a lot to say about this.
But I left this post unfinished for over 2 weeks and now the flame that was burning in me when I started writing this has already over.
Yet I don't want to keep this in the draft.
So it is better to post it like this.

I apologize for those who feel offended.
This is solely my own thoughts that I decided to keep away from my mind.
So I put it here instead.


Annyeong.
Share:

Sunday, November 05, 2017

Pembenaran Diri

Masih kepikiran
Dua malam lalu, mungkin sekitar pukul setengah 8 malam, lepas pulang dari kantor
Biasanya pergi pulang naik tram, tapi Jumat malam kemarin aku memutuskan jalan kaki
Sambil menikmati suasana romantis di sepanjang Sungai Garonne


Tak jauh dari pintu utama gedung apartemen, langkahku sempat terhenti
Di sisi kiri trotoar jalan yang aku lewati, terlihat seorang bapak sedang berjalan dengan susah payah
Selangkah demi selangkah, ke arah yang berlawanan
Di antara gedung dan mobil-mobil yang di parkir di sisi jalan
Kebetulan aku jalan di tengah jalan, karena jalanan di depan kompleks gedung ini memang biasa sepi kendaraan
Terlebih lagi trotoar di sisi jalan sangat kecil ukurannya
Terkadang juga susah dilewati karena satu dua kotak sampah yang diletakkan di luar oleh pemilik gedung
Untuk dikumpulkan oleh truck pengumpul sampah


Sambil tetap melangkah pelan, aku memperhatikan beliau
Sebungkus plastik berukuran lumayan besar terlihat di sisinya
Melangkah sekali, memindahkan plastik ke depan, kemudian melangkah lagi
Tubuhnya terlihat sudah tidak lagi mampu untuk berdiri tegak
Tangannya di pinggul
Seolah-olah menyokong tubuhnya untuk tetap dapat berdiri


Ada begitu banyak pertanyaan yang terlintas di benakku saat itu
Segala kemungkinan mengenai identitas beliau, apa yang ada di plastik di tangannya,
kemana tujuannya, dan mengapa dia ada di situasi itu
Juga segala kemungkinan mengenai apa yang seharusnya aku lakukan

Sayangnya perasaan kuat untuk membantu beliau dikalahkan begitu saja oleh rasa takut dan kurangnya rasa percaya diri
Bukan, bukan takut akan hal yang tidak diinginkan
Apa yang patut ditakutkan dari seseorang yang bersusah payah bahkan untuk melangkah?
Aku takut intensiku untuk membantu bukan sesuatu yang diinginkan
Terlebih lagi aku hanya bisa berbahasa Inggris
Hampir semua penduduk lokal di kota ini menggunakan bahasa Prancis


Faktor lain adalah soal penampilan
Walaupun di kota ini terdapat sejumlah penduduk muslim, yang kebanyakan berasal dari Maroko,
Namun di lingkungan sekitar tempat tinggalku ini, hanya aku yang memakai kerudung
Bukan, bukan aku malu mengenai agama yang kupeluk
Tapi aku bisa merasakan perbedaan atmosfer antara hidup disini dan di Belanda
Aku sadar sebagian besar dari apa yang aku rasakan ini lebih karena aku baru di lingkungan ini
Mungkin lirikan orang bukan karena penampilanku,
tapi lebih karena aku masih baru dan terlihat asing disini
Ya, sepertinya begitu


Aku berpikir keras bagaimana caranya untuk menawarkan bantuan tanpa komunikasi verbal dan tidak terlihat aneh
Aneh? Ntah lah, kenapa ada kata aneh terlintas saat itu
Sedikit menyesal aku tak punya sesuatu apapun di dalam tas, apel misalnya, roti, atau cokelat
Atau jaket. Ya, malam itu memang jauh lebih dingin dari malam-malam sebelumnya
Ntah juga, kenapa aku berpikiran begini ya?
Memangnya semua orang yang terlihat jalan dengan susah payah, butuh makanan?
Butuh jaket?


Berlatarbelakang berbagai justifikasi murahan tadi,
Aku menyerah
Aku melanjutkan langkah, pelan
Pintu apartemen hanya beberapa langkah di depan, di sisi jalan yang sama

Kunci sudah ditangan, hanya perlu membuka kunci pintu dan masuk
Tapi langkahku masih terasa sangat berat
Aku berpaling dan melihat beliau berhenti melangkah, memegang pinggang, kemudian bersandar ke sebuah mobil

Disaat yang sama, seorang bapak lain, mungkin berumur sekitar 40-50an, keluar dari rumah di sisi lain jalan
Bapak tersebut terlihat memegang beberapa barang di tangannya
Menyeberang jalan dan memasukkan barang-barang tadi ke dalam mobil yang di parkir tak jauh dari aku berdiri
Kemudian menatap heran aku yang lama berdiri diam
Lalu menoleh mengikuti arah pandanganku
Ya, aku hanya berdiri diam mematung di depan pintu apartemen
Sambil memperhatikan bapak tua tadi, yang sedang bersandar di mobil


Beberapa detik kemudian, aku memutuskan membuka pintu dan melangkah masuk

__________________________________________________



Ada sedikit rasa penyesalan yang aku rasakan bahkan sampai hari ini
Kenapa hanya untuk mengulurkan tangan harus dipenuhi berbagai hipotesis?


Share:

Friday, September 29, 2017

Sesederhana Sebuah Pelukan

Siang tadi, setelah sampai detik terakhir galau mo ke kampus atau ga, akhirnya ku berangkat juga ke kampus
Beberapa hari ini berasa ga punya tujuan hidup
Ga punya motivasi buat ngapa-ngapain
Sampai sekarang belom mulai ngerjain internship juga
Padahal banyak banget yang mesti dipelajari
*menghela nafas*


Tadinya mo kabur ke Utrecht, ikutan muter-muter sama Noya yang lagi ngurusin sign out kerna mo balik Indo in a few days
Duh, sedih ih ditinggalin semua orang begini T_T
Tapi pas bangun, cuacanya mendung banget
Trus lagi puasa juga
Jadinya mutusin ga jadi ke Utrecht

Trus malah ke kampus
Ikutan nyambut Bapak-Ibu Ristekdikti sama IPB
Mereka maen ke WUR, abis dari Indonesia Inovation Day


Ga sengaja, ketemu sama Nur waktu masuk Forum
Dari papasan sebelumnya, dia cerita kalo lagi ada masalah sama tesis
Trus mesti perpanjang masa studi
Sedih sih kalo dengar cerita dia
Kayaknya masalah tesis uwe bukan apa-apa
Masa supervisor nya tetiba resign dari kerjaan
Spv-nya bilang beliau berasa hampir gila kalo masih nerusin kerja
I can't imagine how she feels exactly, to be honest
Gimana rasanya hampir gila?
Hmm, sebenernya di postingan sebelum-sebelumnya aku udah nunjukin tanda-tanda menuju hampir gila sih ya kayaknya
Tapi kayaknya apa yang aku rasa ga ada apa-apanya dibanding ibunya yang pada akhirnya nyerah dan mutusin resign
Meninggalkan semua tanggung jawab
Trus Nur nya ditinggalin gitu aja,
Padahal ga ada yang tau bener-bener soal projek yang dia kerjakan


Jadi tadi pas ketemu Nur, aku tanyain apa kabar tesisnya
Alhamdulillah katanya Senin dia exam
Ah, alhamdulillah
Memang selalu ada harapan di sisi-sisi paling gelap sekali pun :"
Kerna aku tau dia intake September, aku tanya kapan rencana balik
semua orang aja pergi T_T

And suddenly I was surprised by her answer
Katanya: "Belum tau nih kapan bisa pulang, soalnya border sudah ditutup"

"Hah?? Border? Border apaan?
Kamu dari mana sih??"



"I'm from Palestine."


"What?? I thought you're from Egypt!"


"Noo. I'm from Palestine."


Ya Allah...
Ku ga tau mesti ngasih response apa.


Aku tanya jadi dia bakal gimana abis lulus
Katanya dia harus stay disini dulu dan mesti perpanjang Visa
Dan masih ga tau bakal gimana nantinya


Astaghfirullah..
Meanwhile aku yang masih punya rumah untuk pulang aja masih ngerasa hopeless sama semua ketidakpastian yang bakal aku hadapi setelah lulus nanti
Apa jadinya dia..
Yang bahkan untuk pulang aja ga tau bisa atau ga
Yang setiap hari khawatir apa yang bakal terjadi sama keluarganya di Palestine
Yang pastinya bakalan lebih sulit buat nyusun rencana hidupnya ke depan
Yang mungkin plan A, plan B, plan C aja ga cukup


Ya Allah,
Aku jadi merasa hina, depresi kerna sesuatu yang ga pantes sama sekali buat dibandingin sama masalah yang dia hadapi


Kayaknya memang ada aja cara Allah buat nunjukin kalo aku kurang bersyukur
Setiap kali ada di stage yang hopeless dan ga tau mesti berbuat apa,
Pasti ada aja sesuatu yang bikin aku berasa 'slapped on my face'

Bahkan sesederhana papasan sama orang yang seminggu sekali belum tentu ketemu
Yang bahkan ketemunya kurang dari 10 menit
Sesederhana baca Qur'an 2 halaman di waktu Maghrib, yang tetiba hari ini isinya tentang bersyukur

Kurang apa lagi coba Zi..



Kalo diingat-ingat
Sebelumnya aku juga pernah ketemu Nur disaat lagi kalut
Kerna tetiba sadar udah ngelakuin kesalahan waktu nyeleksi sungai buat olahan data tesis
Padahal udah hampir di tahap terakhir
Tapi waktu sadar ada yang salah di awal dan mesti ngerjain dari awal lagi,
rasanya pengen nangis sambil teriak sekencang-kencangnya
But instead, aku kabur dari perpus trus ke mushollah buat sholat dzuhur, sambil berlinangan air mata
Di Musholla ketemu Nur, yang walaupun aku udah ngapus air mata,
tapi dari gerak-gerik ku dia tau kalo aku lagi ada masalah
Eh trus dipeluk lah sama dia..
Jadinya ku malah makin nangis deh
Tapi bersyukur kerna Allah udah ngasih sesuatu yang memang paling aku butuhin
Lewat orang yang hampir bisa dibilang masih asing



Ah, life..
Bener-bener ya
Mungkin memang bukan untuk dipertanyakan atau dikhawatirkan
Tapi untuk dijalani sebaik-baiknya dan untuk disyukuri sebesar-besarnya




Alhamdulillah
Terima kasih ya Allah udah ngasih hamba dan keluarga kesehatan dan umur yang panjang
Juga untuk semua berkah dan rezeki yang dicurahkan :"
Terima kasih udah nuntun hamba di jalan ini
I know You know the best :"
Share:

Sunday, September 10, 2017

Life Happened

'So - whatever happened to you?'
'Life. Life happened.'
- One Day, David Nicholls



And so.. here I am
Reading a romance novel at Rotterdam Central
I know, what a random life
Accompanied by a piece of croissant
Would like to have a cup of coffee but afraid that I will need toilet a couple of times later


It feels good to have a slow life for a while
*as if I ever had the opposite

Sitting down with a book and music from your headphone
With all stranger passing over,
some stop by to sit next to you
But no need to have the urge to start a conversation
Most of the time accompanied by the cold breeze


Reading stories made by others
The written one and the real time
At the same time wondering what kind of story
life will bring you after all of this


Seasons change
And so do people
And hearts
But life is life
And time is time
Both have no rewind

And now autumn is coming
But I am feeling the cold of winter
Deep inside my soul


I’m walking barefoot through the memories
With the fallen leaves
I’m letting go of the people I haven’t been able to forget
- Time and Fallen Leaves, Akdong Musician


I wish upon a star for a warm and peaceful future
At least for the next 6 months
And if possible for the rest of my life


Ah, I wish I wore a proper jacket :"



Share:

Friday, September 08, 2017

At Least I've Tried

I wonder
Maybe
Love is a luxury
Which I don't deserve

How much wealth do I have to possess
To be worthy of this fancy opulence
Why should everything is about money


But I believe that love is not the only thing that promises happiness
At least I'm trying to believe
Because that's the only hope that helps me alive
And maintain my sanity


That at least I've tried


Share:

Sunday, September 03, 2017

Hati dan Manusia

Looking back on the same date a few years ago, Facebook just kindly reminded me of my abandon notes.
Just realised that, before writing on this blog, I was so into writing notes on my Facebook account. Hahaha
Udah nyinyir dari dulu ternyata wkwk




It surprised me that I am still struggling with more or less the same question,
over and over again, without getting any clear answer yet, until now

Life..
Maybe it is not something to be questioned, but something to get through
Share:

Tuesday, August 29, 2017

Chocolonely




Akhir-akhir ini ga tau kenapa, I can't help but feeling so sad and down
Berasa pengen nangis setiap hari
Bukan berasa ding, tapi emang hampir tiap hari nangis
Rasanya pengen bikin waktu berhenti, atau skip tahun depan
Ga bersyukur banget ya jadi orang


Makan cokelat 70% chocolonely setengah batang juga ga membantu ningkatin endorfin
Yang ada malah bikin feeling lonely, all alone in the world


“It has been said, 'time heals all wounds.' I do not agree. The wounds remain. In time, the mind, protecting its sanity, covers them with scar tissue and the pain lessens. But it is never gone.”
― Rose Fitzgerald Kennedy


Pernah ga sih kamu ngerasa sepi yang parah banget sampe rasanya pengen dipeluk, sama siapapun?
Kata orangnya yang imannya lebih kuat, mungkin, sebabnya kerna lagi jauh sama Allah aja
Ya..it could be
Sholat juga sekedar sholat, akhir-akhir ini
Astaghfirullah..
Ntah lah, ya Allah, Zia lelah


Apa semua orang pasti ada di titik krisis kayak gini ya?
Ada yang bilang quarter life crisis
Mungkin itu core nya, tapi banyak hal lain yang jadi bumbunya
Terutama pms sih
Kenapa cwe selalu nyalahin pms
Ya mo gimana lagi, hormon ga bakal bohong sih

But I wish I can be with you and talk about all these random things in life all day all night



Share:

Thursday, August 10, 2017

Standard Brain Deviation

I think I'm going crazy


Which one is actually bigger?
The space of mind or the space of heart?
Or should I use volume instead of space?
But using three dimensions variables doesn't seem right


Now I understand how devastating being under stress and depression over a long time period is
It is understandable how years of period could lead to deviations in mental health


What exactly is happening in your brain when this kind of situation occurs?
Should I search in google?
No, I don't think I have enough energy to read it
No, I do have energy but not enough to maintain a short period of understanding medical text about synapses and hormone and everything
No, maybe I actually kind of aware what could be happening
Or it's just my assumption?
That I know
Many times, I could not rely on my memory


I don't even know why I'm talking about all of this


And this proves that I'm going crazy
Ability to talk shi*ty things
I mean, unimportant things
Sorry


If later on I come back to this post and found out that my assumption is not proven,
then I can just learn that I was, once, in the state of almost giving up on my healthy state of mind, and heart


Annyeong





Share:

Saturday, July 01, 2017

Antara Cinta dan Komitmen





Kenapa ya, seharian ini bawaannya melo
yaelah, melo mulu ih
Tambah dengerin lagunya Suga - So Far Away yang cover baru
Huft


Mungkin karena cuaca lagi mendukung banget
Tadi pagi pas bangun emang dingin banget
Trus tidur lagi kan abis subuh,
ngantuk banget gegara kasus gaje semalem yang bikin tidur kemaleman
Pas bangun lagi di luar udah basah gitu, abis ujan dan masih gerimis
Sendirian pula di kamar, yaudah lah makin makin
Pengen nelepon rumah, tapi lagi pada jalan2 ke Simarjarunjung
Jalan2 mulu mereka, abis mudik kemaren, pada ke Sibolga
Maen di pantai
Trus tadi pada maen ke gunung, lihat Danau Toba dari atas
Jalan2 wajib setiap lebaran
Sedih ga sih cuma bisa lihat doang dari sini, hiks


Kangen orang, tapi orangnya ga kangen
Pengen ngobrol juga ga bisa
Ngarep ditelepon, tapi chat aja kaga
Yaudah sih, makanya jangan ngarep


Nyoba nesis, tapi kepala isinya uneg2
Ga bisa mulai nulis kalo masih banyak pikiran gini
Jadi yaudah curhat disini aja
Huft


Tadi abis ngobrol sama cewe yang pengen aku lamar aja jadi istri
Tapi ga bisa kerna aku cewe dan kita berdua masih straight
alhamdulillah yha
Satu2nya temen ngobrol rutin almost everyday
Yang bisa ngisi rasa kesepian uwe yang ga jelas ini
Ah, siapa ya cowo beruntung yang bakal dapetin kamu


Doi lagi galau suka sama orang tapi ga mau pacaran atau temenan
Maunya jadi suami aja
Katanya, "Kayaknya aku mulai pengen nikah"
Trus aku speechless


Well, siapa sih yang ga pengen nikah
Ada toh?


Pengen sih nikah, tapi...
Kenapa ya, I always think that marriage is difficult
Malah dulu sempat terlintas untuk stay single for the rest of my life
Yah, pernah sih untuk beberapa waktu sebelumnya merasa yakin udah nemuin 'the one'
Yang kemudian sirna
Ya jodoh siapa yang tau


Tapi serius deh,
kenapa ya makin kesini makin hopeless


Banyak orang yang bilang,
"Menikah itu soal komitmen, bukan cuma soal cinta"


Oke, setuju
Tapi banyak yang mengindikasikan bahwa pernyataan ini berarti
love will fade, so don't use it as the ground of your marriage
Bahwa komitmen adalah pondasi yang lebih kuat dalam membina sebuah keluarga


Yaa...setuju sih
I've witnessed many pieces of evidence that this statement is true
That love will definitely fade away
Even worse
It changes


Tapi ntah kenapa,
deep down in my heart
I'm still hoping to find 'the one' who can love me for the rest of his life
I mean, 'the one' who has the same perspective as me,
to maintain our love for the rest of our life
Someone who will stay beside me not only because of commitment
Because staying with someone who based his company on only commitment is the least I want in my life


But I also know that it's kind of impossible
Or maybe I just haven't found the one
Or, maybe there is noone as naive as me out there,
who adores love in another level


Apalagi,
akhir-akhir ini aku mulai sadar,
bahwa masing-masing orang mencintai dengan cara yang berbeda
Berbahagialah pasangan yang memiliki frekuensi sama dalam mengekspresikan rasa cintanya


Atau mungkin, frekuensi yang sama akan terbentuk after spending times together?
Atau mungkin, you don't have to be in the same frequency?
that this is where we use the term: 'to understand each other'?
Mungkin kegagalan dalam hal ini yang banyak membuat 'gagal'nya pernikahan orang-orang?
When they realized that they made the wrong decision
Maybe it's not wrong, it's just that they failed in achieving this state
Some decided to find another 'love', hoping that he/she is in a closer 'frequency'
While the other try to use 'commitment' to stay together


Or maybe I underestimate the meaning of commitment?
Maybe commitment is more than just commitment?
Maybe, you can only committed to someone if you love him/her?
If that's the case, that's even more perfect!
Tapi emang ada ya?
Sejauh ini belum nemu contoh nyata secara langsung


Mungkin jawaban dari semua ini baru bakal ditemukan ketika aku udah ada di dalamnya
Tapi tetap aja sih belum terjawab
Baru bakal terjawab dipenghujung hidup, sepertinya


That's why I thought that marriage is difficult
because there are so many uncertainties in it
Or maybe, once again,
I haven't found the right one
Ya gimana sih caranya kamu tau kalo seseorang itu orang yang tepat?
Orang yang ditakdirkan buat kamu dunia akhirat?


Pusing amat ya,
Beginilah mungkin kalo orang level keimanan nya masih lemah dan ga stabil
Padahal semua pertanyaan tadi bisa dijawab dengan berserah diri sama Allah
Hidup itu ga ribet, kita aja yang bikin ribet
Kenapa ga rela berserah diri ke Allah?
Kerna merasa jadi makhluk lemah yang ga bisa apa-apa?
Ya emang kenyataannya lemah!
Berserah diri itu kan bukan berarti ga ngelakuin apa-apa
Ada yang namanya ikhtiar


Tapi trus tetep aja ujung-ujungnya,
apapun hasilnya ya ga ada yang tau
Ya tapi kan jangan kerna takut hasilnya ga sesuai harapan,
lantas memilih untuk tidak memulai sama sekali
Lah orang belum ada hasilnya juga
Kenapa berburuk sangka sama Allah?
Sebelum yakin sama siapapun itu yang akan jadi imam hidup kamu nantinya,
Yakin dulu sama Allah sepenuhnya, Zi
Gimana mau nemuin jodoh kalau sama Allah aja masih ga percayaan
Huft
Share:

Thursday, June 22, 2017

One Call Away

I've been told, several times,
by no other than the most independent woman I've known, other than my own sister,
(how many times have I said this already?)
that I'm a hopeless romantic.
I think maybe it's because I showed my honest expression
that I couldn't show to anybody
(I know this is not enough as a clarification, Noy)
I mean, to whom would I said comment like,
"I think that sitting side by side in the bus is romantic",
other than myself, if it's not to you, haha
because I know it's a bit, well, too much
But I still think that strolling around the canals (and taking pictures, if you know what I mean) in Utrecht is romantic!
with a side note, pure strolling, without the intention of buying anythings as most of the times we do


And now I feel like giving testimony over something trivial,
of which I personally judge that you will give the same comment,
so I write it here instead
Haha



(I know this is unrelated, but I love this pict, and to show that the sun was amazing!)


It's not that I'm a hopeless romantic,
(and I wouldn't really mind if it's still so)
but it's proven that, many times,
one phone call can really do make a big difference
(and suddenly Spotify plays Charlie Puth - One Call Away, really! haha)


There is this strange flow of energy of getting to 'directly' interact
without giving the time to think about the exact meaning of the text you received
or the meaning behind it, or behind it
(well, maybe a matter of over-thinking also plays an important buffer in this case)


But we do that, don't we?
Analysing the meaning behind a text,
or even just try to understand the feeling behind the text
or the story behind it, or maybe what the writers were doing when he/she wrote it
(please tell me I'm normal even if I do this kind of thing)


And there is this thing about mind that you cannot control, isn't it (or not?)
I mean, even if you determined not to think about something, you will end up thinking about it
Because the act of determination of controlling this thought itself means that you are thinking about it
(or am I too much? is it only me?)


Even if it's a mere insignificant thought,
Even if you try to forget about it,
it's still there
it can linger the whole year

Just like the typical grass you can find at the side of the road
They will be there in all seasons, without your effort to care for them
They just change colours
Maybe you can't really see them in winter
when they were covered by snow
But believe me, they're still there


And why do I suddenly talk about all these insignificant things
when the first intention of writing this post was just to say that I'm happy today!
Haha, zampah banget yha



Anyway
Have a nice day!
Annyeong!
Share:

Sunday, June 11, 2017

Why do you feel lonely?




Why do people feel lonely?

Having people around you won't guarantee that you'll free of feeling alone
There are 7,5 billion of people in this planet
Yet it is still possible to feels like an alien among all these human


Why do people feel lonely?
Is it because of our greed?
Of needing someone who can understand us?
Of the feeling to be accepted?
Of having someone to talk to?
Of the feeling to have someone to rely on?
Of the feeling to have a company?


*sigh*
I don't know
Why do I feel lonely?


No, maybe lonely is not the right term
I just feel..
Empty
Share:

Monday, May 08, 2017

Alasan



"Aku mencintaimu karena Allah."

Sampe sekarang kalo baca kalimat ini (belum, belum.., belum pernah dengar langsung), rasanya gimanaa gitu
Yang gimana sih rasanya cinta karena Allah?
Kerna cinta, trus jadi lebih rajin ibadah?
Kenapa?
Mesti kerna ada maunya

Ya ga gitu juga sih
Mungkin maksudnya cinta yang bikin kita pada saat yang bersamaan semakin mencintai Allah
Atau ya udah gitu aja, cinta karena Allah


Duh, sounds so wrong
Emang boleh Allah jadi alasan?

ya kenapa ga? justru harusnya begitu kan?

Ga tau tapi rasanya gimana gitu
Ga pantes aja Allah dijadiin alasan

Loh

Hmm, mungkin maksudnya cinta atas izin Allah (?)
Tau dari mana kalo diizinin?

Lah, kalo udah dirasain, berarti udah diizinin dong

Ya ga mesti juga, kan ga semua orang yang mencintai karena Allah
Trus yang ga mencintai karena Allah gimana dong?
Atau yang ngakunya cinta karena Allah taunya ga?
Atau, duh, auk ah, gelap

Aih, makanya ikut pengajian sanah -_-
Ya walaupun ga semua yang dibilang ustadz itu bener 100%, namanya juga manusia
Tapi kan pasti selalu ada ilmu yang bisa didapat
Well, at least menambah sudut pandang baru


Hmmm, yhaaaaaa, baiklaaah
Annyeong~
Share:

Friday, April 28, 2017

Hari Puisi dan Pencarian Makna




“aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada”


― Sapardi Djoko Damono


Nelongso banget yha, puisi Bapak Sapardi yang satu ini
Gimana coba caranya mencintai dengan sederhana?
Pasrah?
Diam?
Hmm...
Sejujurnya ini salah satu puisi yang ku suka banget dari sejak pertama kali baca dulu di sekolah
Dulu, pas baca puisi ini, berasa ada rasa ngilu di dada, sedih, tapi kagum

Tapi kenapa ya sekarang ngerasanya nelongso abis kalo baca puisi ini
Nelongso dalam artian ga terima


Is it wrong to love passionately?
Why simple if you can make it more?

Apa ga ada cara lain buat bisa mencintai dengan sederhana?
Bapak bahagia mencintai dengan cara begitu, Pak?

Ah, mungkin aku yang salah
Mungkin maksud mencintai itu bukan mencari kebahagiaan
Tapi dengan mencintai maka kamu bahagia
(emang ngomong doang mah gampang ya)


By whichever means, to love is supposed to make you happy
If it's not, then maybe you need to re-think about it
Is it love? Really?

Huft, why so complicated



Anyway, selamat hari puisi nasional~
Share:

Wednesday, April 19, 2017

Viewpoint





I did expect that
What?
Nothing
So what is it that you expect?
I expect nothing
-_-
I said I expect nothing. Is it not clear enough?
So what's the need to expect then?
That's the point. I expect nothing, but then I realized that expecting nothing is also upsetting. So what do you thing is better? Expecting something or nothing?
What are you talking about?
I am talking about expectation, please be focus
I am totally awake and focus now. It's you who are wondering around right now
I am asking you which one is better: expecting something or not at all
You said you expect nothing but then it's upsetting. Then it means that you do expect something. It's just that you TRY not to expect anything. Which is, I personally think, failed
-__-
Well, sorry, maybe I'm just too tired. Or maybe that premenstrual symptoms, you know those things with women
So you need more serotonin right now? That's what it is?
Why are you so mean?
I am not. I am asking you, do you need more serotonin?
Is it something that you can get at a nearby drugstore? -_-
Go out. Do some exercise
I'm born to be lazy
Jeez. Go to hell, then. No, no, I mean, go eat something
Will it give you more serotonin?
No, it will make you full, and then sleepy, and then you go to bed early, and tomorrow you will be happy again. That's it
Hmm, what a very nice advice -_-
Of course, I know everything. Trust me
:p
Go, girl :) You need some rest
:3 Love you
Yes, yes, I know you love yourself -_-
Annyeong, hahahaa
Share: