Friday, May 04, 2018

Rindu

Ah, suasana ini.
Sudah lama aku tak di sini.
Diantara wajah-wajah lelah itu.
Wajah-wajah lelah yang berusaha mengusir bosan dengan birunya layar ponsel di genggaman.
Ponsel-ponsel investasi.
Ponsel-ponsel yang menemani satu dua jam perjalanan dalam diam,
diantara aroma penat yang memenuhi udara.

Mendadak aku merasa sepi.


Tujuan terakhir.
Aku melangkah keluar.
Terdiam sejenak untuk menikmati udara bebas yang mengisi paru-paru.
Udara dingin dan lembab.
Hujan akan turun tak lama lagi.
Aku berjalan bersama ratusan langkah kaki yang bersemangat.
Bersemangat untuk segera pulang.
Pulang menuju hangatnya ruang makan, ruang keluarga,
dan hangatnya pelukan.
Menikmati penghujung minggu yang tak akan berlangsung lama.


Jalanan ini.
Jalanan yang tak asing.
Jalanan yang dipenuhi berbagai kehidupan.
Jalanan yang sama,
yang tak berubah barang sedikit pun.

Tetesan kecil hujan mulai membasahi dua kaca bening yang terpasang di depan mataku.
Menciptakan butiran-butiran samar yang memantulkan cahaya jalanan.
Tak perlu lensa kamera untuk melihat bokeh itu.


Aku menengadahkan wajah.
Menikmati rintik yang tak lagi ragu untuk jatuh.
Menetes dan mengalir di pipi.
Sensasi yang baru kusadari sudah lama tak kurasa.
Ah, I don't even know if it's a good thing or a hidden caution.


Langit kelabu.
Tak seperti malam kemarin.
Malam dengan Saturnus dan Jupiter yang bersinar terang menemani.
Juga beberapa bintang,
yang hanya terlihat dengan bantuan dua lempengan kaca kecil ini.
Malam dengan bulan yang tak lagi penuh.
Malam yang membuat aku rindu.
Rindu akan mimpi-mimpi yang terlupakan.

~
Share:

Wednesday, May 02, 2018

Crazy Rich Asians

“I'm telling you, this so-called 'prosperity' is going to be the downfall of Asia. Each new generation becomes lazier than the next. They think they can make overnight fortunes just by flipping properties and getting hot tips in the stock market. Ha! Nothing lasts forever, and when this boom ends, these youngsters won't know what hit them”
― Kevin Kwan, Crazy Rich Asians

It was actually not a surprise that one (big) family (may) hold a big control and influence on the economy of one region, here in Asia or maybe the world.
What amazed me more was the 'actual' lifestyle of jet-setters and the Big Moneys.
Well, I know some of them do have private jet, or some others buy hundred/thousands million dollar of bags or clothes just like buying some peanuts in Alfama*t or Indo*aret.
But, to get 'the real' exposure of what (could be) really happening, it's just, WOW, WOOOWWW.
To be honest, I couldn't fully imagine most of the descriptions of the house, the clothes, expensive cars, and other related matters.
Such as the material used for the building, all the gold coated, the couture.
I don't even know how expensive marble flooring is.
At least I know it looks fancy (and expensive). But never really care about the price (I couldn't afford it anyway).
Thanks to this novel, I got some enlightenments.


I read this book by the influence of Noyara.
She told me that she never really notice how 'big' Singapore is (or could be) until she read this book.
So I was intrigued and decided to borrow the book from her when we were in her house in Purwokerto.

The main plot itself is not that fresh, it's just like any other Korean Drama story.
A super charming boyfriend and his super rich family (like, SUPER), crazy mom (and her friends), some crazy bitches and all the drama.
I am actually a little bit disappointed with the ending.
It may look like a happy ending for Rachel and Nick, but I am more interested on how they are going to solve the problems or how they face the issue.
And what may happen in the longer term after, if possible, their marriage.

The kind of family tradition is common in Asia. Except one country may have slight difference from the others.
People may vocal on anti-racism, but not that many involve in anti-classism.
And it is not easy to be changed.
It's already running for generations.
Making it more like the identity of the people, and the society.
So I was actually curious about what solution Kevin Kwan might propose for the issue.
In fact, he didn't give any (in this book).

I was also a bit curious about what might happen to Astrid and her family.
Somewhat touched by the unchanging love of Charlie (but felt the irony at the same time).
But I really want to know what Michael would do in the end and how he feels about it.


Apart from my dissatisfaction with the ending and the main story, this novel is still recommended for a light reading in between daily activities.
Especially with all the 'wow'.
And I heard that they are going to release the film soon!
Whoa..
We (me and Noya) are definitely going to watch it.


P.S
Anyway, I just knew (right now, at this moment, after I wrote this long review) that the story is a sequel.
So that's why so many things are left unclear!
Kemana aja Ziii.
SO, basically this is the first book. Followed by China Rich Girlfriend and Rich People Problems.
Ah, I wonder if I should read both of them.
Maybe I should (?)
Share:

Tuesday, April 17, 2018

Tell Me Something Good

"I know and that's why I can't have you tied to me. I don't want you to miss all the things that someone else can give you. And selfishly I don't want you to look at me one day and feel even the tiniest bit of regret or pity."

Been wanting to read Jojo Moyes books for long, but ended up watching it first.
Actually, I never wanted to watch movies or read books if it doesn't have a happy ending.
And I didn't know that 'Me Before You' is one of them.
But, strange enough, I didn't feel as much betrayed after I finished watching it.
I didn't feel as sad as I usually do.
It just made me.. helpless.. and depressed.
*well, I guess it does sound like 'sad'
And the aftereffect lasts even until now.


Sebenernya sempat ngerasa (dan berharap) Will bakal berubah pikiran, but he didn't.
Trus aku jadi kepikiran.
Kalau dia memang benar-benar sayang, kenapa dia memilih untuk mati?
Apakah memilih untuk mati menunjukkan kalau dia lebih sayang, atau justru egois?
Mungkin bisa jadi keduanya.
He didn't have any other option whatsoever.
And I guess deciding to let her go, or in this case, deciding to go himself, is for a greater good.


Trus jadi teringat obrolan tentang lirik lagu Dewa19, Dewi, di mobil 2 malam lalu.
Bahwa ketika mencintai seseorang, akan lebih mudah untuk mati lebih dulu,
daripada harus menjadi orang yang harus melanjutkan hidup tanpa orang yang dicintai.

Sejujurnya sampai sekarang masih agak sedikit mengganjal.
Emang bener ya?
Bukannya sama-sama susahnya?
Apalagi mengingat ketika kamu yang mati, kamu ga punya pilihan lain.
Tapi kalau kamu yang melanjutkan hidup, at least kamu masih punya kesempatan lain.
Banyak kan, orang yang ditinggal mati suami/istri nya, lalu kemudian menikah lagi dan menemukan kebahagiaan lain.
Namanya juga manusia, natural instinct to survive.
(Trus kembali ke pertanyaan lama, kalau kayak gitu, jodohnya yang mana? Halah..)


Tapi kayaknya dua hal ini bukan hal yang sebaiknya dibahas berlarut-larut.
Apalagi kalau menyangkut soal mati.
Apapun mengenai kematian adalah sebuah misteri sampai kamu ngerasain sendiri.


The main point is I really enjoy the film. That's it. Annyeong.
Share:

Wednesday, April 11, 2018

Pathetic



Pernah ga sih, ngerasa ga siap sama sesuatu yang baru?
Mungkin, mostly semua orang bakal ngerasa hal yang sama ya.
Kayaknya ini alasan paling besar kenapa akhir-akhir ini rasanya demotivated gitu buat ngelamar kerja.
Kerna emotionally belum siap untuk terjun ke dunia kerja.
Terlebih lagi, lowongan kerja yang menarik perhatian juga bisa dihitung pake jari.
Apalagi lowongan yang akunya qualified..#sigh #meratapinasib


Sebenernya sih, dulu sempat berketetapan kalo mau santai-santai dulu aja abis lulus.
More or less 3 bulan ga mau kerja dulu gitu.
Tapi kan tetap aja ya, nyari kerjanya mesti dari sekarang.
Mana uang semakin menipis, banyak pengeluaran tak terduga, yang jauh di luar perencanaan.
Budget yang dengan susah payah disisihkan disela-sela memenuhi hasrat jalan-jalan ternyata umurnya ga panjang.
Ah, sedih..
Saatnya kembali ke realita kehidupan.


Kata orang, semua tergantung pilihan.
Ya sih..
Dari dulu juga begitu, ga cuma sekarang kan.
Tapi ntah kenapa yang sekarang ini rasanya memilih salah satu jadi jauh lebih berat.
2-3 tahun lalu, sering kali pilihan masih dibumbui ego.
Sekarang, bahkan untuk egois pun susah.
Saat idealisme dihadapkan dengan materi..


Bicara soal materi, 2 hari lalu, sempat merasa tercekat di jalan pulang ke kosan.
Sore itu panas dan gerah. Jalan berdua bareng noya, tanpa banyak ngobrol.
Lagi galau mikirin semua pengeluaran di luar dugaan, juga mikirin gimana caranya berhemat untuk ke depan.
Mikirin beli apa buat makan malam, sambil berusaha keras menahan diri buat ga jajan minuman dingin.

Di depan terlihat seorang Bapak berjalan dengan kaki, maaf, pincang.
Kaki kanannya lebih kecil dari kaki kiri.
Bajunya lusuh, tanpa barang bawaan apapun.

Kami berjalan beberapa langkah di belakang Bapak tersebut.
Tak jauh di depan terlihat seorang Bapak tua duduk di pinggiran trotoar sambil memegang mangkuk plastik kecil di depannya.
Jujur waktu itu aku ga terlalu memperhatikan Bapak tua ini.
Karena di sepanjang trotoar yang kami jalani banyak orang duduk sambil menjual barang dagangannya.

Kejadian itu berlangsung kurang dari 5 detik.
Tanpa aku duga, Bapak di depan kami berhenti, merogoh kantung celananya, lalu menjatuhkan sejumlah uang (ntah itu kertas atau koin), ke mangkuk Bapak tua tadi, lalu kemudian melanjutkan jalan.

Aku merasakan gelombang perasaan yang aneh selama sepersekian detik.
Namun karena momentum langkah kami, aku hanya dapat terus berjalan sambil melirik ke Bapak tua tadi, lalu memandang kosong ke Bapak di depan kami.

....... Saat itu juga aku merasa diri ini sangat kecil dan menyedihkan.


Entah apa yang ada di pikiran Bapak tersebut ketika dia menyerahkan uangnya,
yang mungkin akan sangat berharga untuk keperluan hidupnya yang lain, ke Bapak tua tadi.


Atau, mungkin harusnya pertanyaan di atas dirubah.
... Entah apa yang aku pikirkan selama ini sehingga bisa menjadi pribadi yang semenyedihkan ini.
Share:

Friday, March 16, 2018

160318

Annyeong..
Dah lama banget ga nulis.
There were so many things going on in my head these recent months, even until now.
Jadi gitu ya, kalo terlalu banyak jadinya bingung mau nulis yang mana dulu.
Ujung-ujungnya jadi ga nulis apapun.
Makanya yang berlebihan ga baik, just enough is enough.
But sometimes your mind is not your mind.
It has its own space and time
.


Udah seminggu lebih di rumah, hampir literally doing nothing.
Tapi tidurnya malam mulu, pagi bahkan, heran kan.
10 hari di rumah, kayaknya cuma keluar 5x, itu juga 2x nya kerna kondangan.
2x kerna butuh ambil uang trus beli hadiah buat kondangan and kirim paket,
trus sekalinya yang bener2 keluar malming kerna diajakin nopi and suaminya makan di luar.
Selebihnya, mostly spent at home, di kamar.
50% maen candy crush.
My life..


Kemaren pas nyampe rumah, langsung sakit.
Tapi memang udah ga enak badan dari sejak di Belanda, gegara cuacanya dingin banget, super dingin.
Pas minggu wisudaan, real feel sampe -20! Gila sih
Hari-hari terdingin selama 2 tahun di Belanda.
Begitu di Indo langsung 30 derajat.
Nyampe rumah langsung nge-drop, flue batuk dan hampir demam.
Tapi langsung minum obat trus 2-3 hari lumayan enakan.
Kayaknya gegara capek jalan2 pas ke scandinavia dingin-dingin maen salju berhari-hari.
Trus nyampe Belanda disambut extreme cold juga.
Trus mendadak pulang, super panas and lembab.
Jadinya yaudah deh.


Hampa banget hape rusak, slot buat kartunya ga ngebaca.
Jadi lagi dibenerin.
Kepikiran beli hape baru tapi ga dulu deh, masih banyak yang butuh dibiayain.
Lagian hapenya masih bagus juga, walaupun kadang suka nge-hang tiba-tiba.
But overall performance nya masih oke.
Jadi yaudah tadi dianter ke reparasi buat ganti slot kartu baru.
Mayan, cuma 150ribu.
Besok juga udah bisa diambil sih.
Ini juga akhirnya pelarian kesini kerna ga ada yang bisa dipake buat nge-blank doing nothing but candy crush.


Beberapa hari ini lagi suka dengerin laguya Roy Kim, "Only Then", gegara denger cover-an JK di soundcloud.
Padahal awalnya ga tau lagu ini, baru release bulan kemaren.
Release pas lagi jalan2, trus ga update.
Biasanya lagu Roy Kim yang suka banget aku dengerin cuma "Maybe I" sama "When Autumn Comes".
Trus ternyata yang baru ini juga bagus, tipe-tipe lagu yang aku suka dengerin rewind terus-terusan.
Awalnya rewind di soundcloud yang dicover JK, trus rewind versi asli di Spotify, trus rewind ganti-gantian.
Haha..ga penting banget ya.


Trus ini sekarang sambil nulis sambil dengerin "4 o'clock" rewind nonstop.
Ga tau kenapa tetiba tadi iseng buka-buka soundcloud BTS trus dengerin beberapa lagu yang ga ada di spotify.
Trus lihat 4 o'clock, terjebak dan ga bisa lepas.
Gegara liriknya yang terlalu deep.
Tipikal lagu-lagu Namjoon.

Sejujurnya ku suka Namjoon kerna lirik-liriknya yang sentimental.
Tapi in general, lagu-lagu BTS yang paling aku suka, mostly lagu yang music tone-nya Yoongi banget, dan mostly HYYH era.
Kecuali "Epilogue: Young Forever", yang kalo ga salah co-producer nya Namjoon.
Sama "Sea" yang kata Namjoon lagu yang dia buat pas kapan tau tapi baru dimasukin album yang baru dan versi asli nya cuma ada di album jadi hidden track.

"Ocean, desert, the world
Everything is the same thing
Different name
I see ocean, I see desert, I see the world
Everything is the same thing
But with a different name
It’s life again"


Trus kenapa jadi ngomongin BTS.
Hahahhaa
Maap ya, bangtan trash banget. Receh banget emang hidup gue.

Yaudah deh, bingung juga mau ngomongin apa.
Lagi belum ada energy to put some extra effort dan nulis yang lebih bermakna.
Sebenernya ini juga pelarian dari tugas kompilasi analisis riset intern yang ga juga dikerjain sampe sekarang.
Padahal janjinya ke Alina, supervisor di kantor internship, bakal kasih awal february.
Dan sekarang 17 Maret.
Nice.
Share: