Wednesday, May 23, 2018

Tuhan Dimana?

Ayumi (3 yo): [Nunjuk imam tarawih] "Bun*, itu Tuhan?"
Sarifah (22 yo): "Bukan Yum, itu imam sholat."
Ayumi: "Trus, Tuhan dimana?"
Sarifah: [Bengong] ".. Tuhan itu jauh, Yum."
*Bun aka. Bunde aka. Bude aka. Tante


Ayumi ni emang terlalu bijak & kritis (& kurang ajar kadang, hahaa).
Kadang suka lupa kalo doi masih 3 tahun.
Terlalu dewasa untuk anak seusia dia.
Bingung ya, susah ternyata ngedidik anak itu.
Trus keinget mata kuliah Psikologi Anak sama Perkembangan Keluarga yang dulu sempat diambil jadi supporting course.
Aneh banget yak, jurusan Meteorologi Terapan tapi supporting course-nya dari IKK.
Ya sebenernya dulu maunya Minor Tekling, tapi apa daya jadwal ga cocok.
Yaudah sekalian ambil IKK yang pasti bakal kepake, bakal dipraktekin.
Kepengen Minor Fisika Modern juga tapi males banget kalo mesti ngambil elektronika.



Back to topic.
Kalo ada anak kecil nanya Tuhan dimana, baiknya jawab apa sih?
Soalnya aku juga ga tau jawabannya. Haha #tawagetir

Jadi ingat dulu waktu masih SD sering banget nanyain Mamak hal-hal aneh.

"Mak, kalo umur & rejeki udah ditentuin Allah dari sejak kita lahir,
ngapain kita masih berdoa minta dikasih umur panjang sama rejeki berlimpah?"


"Mak, kenapa sih sholat mesti ngehadap Ka'bah?
Kayak seolah-olah kita menyembah Ka'bah gitu ya.
Padahal Ka'bah itu kan cuma bangunan kotak ditutup kain hitam.
Apa bedanya kita sama orang Hindu yang nyembah patung.
Trus kan katanya Allah ada dimana-mana."


Trus, Mamak cuma bilang:
"Ga usah kau pikirin kali hal-hal kayak gitu, gilak nanti kau."

Hahahahaha
Sampe sekarang juga masih suka nanya hal-hal aneh yang seharusnya ga ditanya sih.
Makanya pasti bingung kan kalo ditanyain anak kecil gitu.

Selama ini alasan kenapa suka banget sama ilmu fisika modern juga gegara penasaran aja sih.
Penasaran sama Allah.
Eh, maksudnya, sama ciptaan-Nya.
Dan semua penjelasan dibalik itu semua..

Duh, jadi kepengen beli teleskop lagiiiii.
Tapi disini mah susaaah makenya.
Heu
Share:

Friday, May 04, 2018

Rindu

Ah, suasana ini.
Sudah lama aku tak di sini.
Diantara wajah-wajah lelah itu.
Wajah-wajah lelah yang berusaha mengusir bosan dengan birunya layar ponsel di genggaman.
Ponsel-ponsel investasi.
Ponsel-ponsel yang menemani satu dua jam perjalanan dalam diam,
diantara aroma penat yang memenuhi udara.

Mendadak aku merasa sepi.


Tujuan terakhir.
Aku melangkah keluar.
Terdiam sejenak untuk menikmati udara bebas yang mengisi paru-paru.
Udara dingin dan lembab.
Hujan akan turun tak lama lagi.
Aku berjalan bersama ratusan langkah kaki yang bersemangat.
Bersemangat untuk segera pulang.
Pulang menuju hangatnya ruang makan, ruang keluarga,
dan hangatnya pelukan.
Menikmati penghujung minggu yang tak akan berlangsung lama.


Jalanan ini.
Jalanan yang tak asing.
Jalanan yang dipenuhi berbagai kehidupan.
Jalanan yang sama,
yang tak berubah barang sedikit pun.

Tetesan kecil hujan mulai membasahi dua kaca bening yang terpasang di depan mataku.
Menciptakan butiran-butiran samar yang memantulkan cahaya jalanan.
Tak perlu lensa kamera untuk melihat bokeh itu.


Aku menengadahkan wajah.
Menikmati rintik yang tak lagi ragu untuk jatuh.
Menetes dan mengalir di pipi.
Sensasi yang baru kusadari sudah lama tak kurasa.
Ah, I don't even know if it's a good thing or a hidden caution.


Langit kelabu.
Tak seperti malam kemarin.
Malam dengan Saturnus dan Jupiter yang bersinar terang menemani.
Juga beberapa bintang,
yang hanya terlihat dengan bantuan dua lempengan kaca kecil ini.
Malam dengan bulan yang tak lagi penuh.
Malam yang membuat aku rindu.
Rindu akan mimpi-mimpi yang terlupakan.

~
Share:

Wednesday, May 02, 2018

Crazy Rich Asians

“I'm telling you, this so-called 'prosperity' is going to be the downfall of Asia. Each new generation becomes lazier than the next. They think they can make overnight fortunes just by flipping properties and getting hot tips in the stock market. Ha! Nothing lasts forever, and when this boom ends, these youngsters won't know what hit them”
― Kevin Kwan, Crazy Rich Asians

It was actually not a surprise that one (big) family (may) hold a big control and influence on the economy of one region, here in Asia or maybe the world.
What amazed me more was the 'actual' lifestyle of jet-setters and the Big Moneys.
Well, I know some of them do have private jet, or some others buy hundred/thousands million dollar of bags or clothes just like buying some peanuts in Alfama*t or Indo*aret.
But, to get 'the real' exposure of what (could be) really happening, it's just, WOW, WOOOWWW.
To be honest, I couldn't fully imagine most of the descriptions of the house, the clothes, expensive cars, and other related matters.
Such as the material used for the building, all the gold coated, the couture.
I don't even know how expensive marble flooring is.
At least I know it looks fancy (and expensive). But never really care about the price (I couldn't afford it anyway).
Thanks to this novel, I got some enlightenments.


I read this book by the influence of Noyara.
She told me that she never really notice how 'big' Singapore is (or could be) until she read this book.
So I was intrigued and decided to borrow the book from her when we were in her house in Purwokerto.

The main plot itself is not that fresh, it's just like any other Korean Drama story.
A super charming boyfriend and his super rich family (like, SUPER), crazy mom (and her friends), some crazy bitches and all the drama.
I am actually a little bit disappointed with the ending.
It may look like a happy ending for Rachel and Nick, but I am more interested on how they are going to solve the problems or how they face the issue.
And what may happen in the longer term after, if possible, their marriage.

The kind of family tradition is common in Asia. Except one country may have slight difference from the others.
People may vocal on anti-racism, but not that many involve in anti-classism.
And it is not easy to be changed.
It's already running for generations.
Making it more like the identity of the people, and the society.
So I was actually curious about what solution Kevin Kwan might propose for the issue.
In fact, he didn't give any (in this book).

I was also a bit curious about what might happen to Astrid and her family.
Somewhat touched by the unchanging love of Charlie (but felt the irony at the same time).
But I really want to know what Michael would do in the end and how he feels about it.


Apart from my dissatisfaction with the ending and the main story, this novel is still recommended for a light reading in between daily activities.
Especially with all the 'wow'.
And I heard that they are going to release the film soon!
Whoa..
We (me and Noya) are definitely going to watch it.


P.S
Anyway, I just knew (right now, at this moment, after I wrote this long review) that the story is a sequel.
So that's why so many things are left unclear!
Kemana aja Ziii.
SO, basically this is the first book. Followed by China Rich Girlfriend and Rich People Problems.
Ah, I wonder if I should read both of them.
Maybe I should (?)
Share:

Tuesday, April 17, 2018

Tell Me Something Good

"I know and that's why I can't have you tied to me. I don't want you to miss all the things that someone else can give you. And selfishly I don't want you to look at me one day and feel even the tiniest bit of regret or pity."

Been wanting to read Jojo Moyes books for long, but ended up watching it first.
Actually, I never wanted to watch movies or read books if it doesn't have a happy ending.
And I didn't know that 'Me Before You' is one of them.
But, strange enough, I didn't feel as much betrayed after I finished watching it.
I didn't feel as sad as I usually do.
It just made me.. helpless.. and depressed.
*well, I guess it does sound like 'sad'
And the aftereffect lasts even until now.


Sebenernya sempat ngerasa (dan berharap) Will bakal berubah pikiran, but he didn't.
Trus aku jadi kepikiran.
Kalau dia memang benar-benar sayang, kenapa dia memilih untuk mati?
Apakah memilih untuk mati menunjukkan kalau dia lebih sayang, atau justru egois?
Mungkin bisa jadi keduanya.
He didn't have any other option whatsoever.
And I guess deciding to let her go, or in this case, deciding to go himself, is for a greater good.


Trus jadi teringat obrolan tentang lirik lagu Dewa19, Dewi, di mobil 2 malam lalu.
Bahwa ketika mencintai seseorang, akan lebih mudah untuk mati lebih dulu,
daripada harus menjadi orang yang harus melanjutkan hidup tanpa orang yang dicintai.

Sejujurnya sampai sekarang masih agak sedikit mengganjal.
Emang bener ya?
Bukannya sama-sama susahnya?
Apalagi mengingat ketika kamu yang mati, kamu ga punya pilihan lain.
Tapi kalau kamu yang melanjutkan hidup, at least kamu masih punya kesempatan lain.
Banyak kan, orang yang ditinggal mati suami/istri nya, lalu kemudian menikah lagi dan menemukan kebahagiaan lain.
Namanya juga manusia, natural instinct to survive.
(Trus kembali ke pertanyaan lama, kalau kayak gitu, jodohnya yang mana? Halah..)


Tapi kayaknya dua hal ini bukan hal yang sebaiknya dibahas berlarut-larut.
Apalagi kalau menyangkut soal mati.
Apapun mengenai kematian adalah sebuah misteri sampai kamu ngerasain sendiri.


The main point is I really enjoy the film. That's it. Annyeong.
Share:

Wednesday, April 11, 2018

Pathetic



Pernah ga sih, ngerasa ga siap sama sesuatu yang baru?
Mungkin, mostly semua orang bakal ngerasa hal yang sama ya.
Kayaknya ini alasan paling besar kenapa akhir-akhir ini rasanya demotivated gitu buat ngelamar kerja.
Kerna emotionally belum siap untuk terjun ke dunia kerja.
Terlebih lagi, lowongan kerja yang menarik perhatian juga bisa dihitung pake jari.
Apalagi lowongan yang akunya qualified..#sigh #meratapinasib


Sebenernya sih, dulu sempat berketetapan kalo mau santai-santai dulu aja abis lulus.
More or less 3 bulan ga mau kerja dulu gitu.
Tapi kan tetap aja ya, nyari kerjanya mesti dari sekarang.
Mana uang semakin menipis, banyak pengeluaran tak terduga, yang jauh di luar perencanaan.
Budget yang dengan susah payah disisihkan disela-sela memenuhi hasrat jalan-jalan ternyata umurnya ga panjang.
Ah, sedih..
Saatnya kembali ke realita kehidupan.


Kata orang, semua tergantung pilihan.
Ya sih..
Dari dulu juga begitu, ga cuma sekarang kan.
Tapi ntah kenapa yang sekarang ini rasanya memilih salah satu jadi jauh lebih berat.
2-3 tahun lalu, sering kali pilihan masih dibumbui ego.
Sekarang, bahkan untuk egois pun susah.
Saat idealisme dihadapkan dengan materi..


Bicara soal materi, 2 hari lalu, sempat merasa tercekat di jalan pulang ke kosan.
Sore itu panas dan gerah. Jalan berdua bareng noya, tanpa banyak ngobrol.
Lagi galau mikirin semua pengeluaran di luar dugaan, juga mikirin gimana caranya berhemat untuk ke depan.
Mikirin beli apa buat makan malam, sambil berusaha keras menahan diri buat ga jajan minuman dingin.

Di depan terlihat seorang Bapak berjalan dengan kaki, maaf, pincang.
Kaki kanannya lebih kecil dari kaki kiri.
Bajunya lusuh, tanpa barang bawaan apapun.

Kami berjalan beberapa langkah di belakang Bapak tersebut.
Tak jauh di depan terlihat seorang Bapak tua duduk di pinggiran trotoar sambil memegang mangkuk plastik kecil di depannya.
Jujur waktu itu aku ga terlalu memperhatikan Bapak tua ini.
Karena di sepanjang trotoar yang kami jalani banyak orang duduk sambil menjual barang dagangannya.

Kejadian itu berlangsung kurang dari 5 detik.
Tanpa aku duga, Bapak di depan kami berhenti, merogoh kantung celananya, lalu menjatuhkan sejumlah uang (ntah itu kertas atau koin), ke mangkuk Bapak tua tadi, lalu kemudian melanjutkan jalan.

Aku merasakan gelombang perasaan yang aneh selama sepersekian detik.
Namun karena momentum langkah kami, aku hanya dapat terus berjalan sambil melirik ke Bapak tua tadi, lalu memandang kosong ke Bapak di depan kami.

....... Saat itu juga aku merasa diri ini sangat kecil dan menyedihkan.


Entah apa yang ada di pikiran Bapak tersebut ketika dia menyerahkan uangnya,
yang mungkin akan sangat berharga untuk keperluan hidupnya yang lain, ke Bapak tua tadi.


Atau, mungkin harusnya pertanyaan di atas dirubah.
... Entah apa yang aku pikirkan selama ini sehingga bisa menjadi pribadi yang semenyedihkan ini.
Share: