Thursday, October 11, 2018

Kamis Pagi di Stasiun Sudirman

Kuputuskan berangkat pagi benar.
Sebelum matahari mulai menyengat dan kelembaban meningkat seiring dengan peningkatan emosi.
Naik commuter adalah satu-satunya alasan yang paling rasional, walau kadang kurang 'manusiawi'.
Setengah 6 sepertinya waktu yang tepat sebelum puncak ketidakmanusiawian jalur commuter yang akan aku naiki.
Walau harus menanggung resiko menunggu 1 jam lebih.
Resiko yang sekali lagi lebih manusiawi dibanding harus berdesakan diantara campuran aroma bedak, sabun, parfum dan minyak angin.
Berjuang nyari tumpuan dan pijakan.

Dan setengah 6 terbukti adalah waktu yang tepat untuk naik commuter dari daerah Jakarta Selatan yang kata anak Jaksel tergolong Depok ini.



Kuputuskan duduk nunggu di kursi peron.
Masih mengutuk ketidakbecusan lembaga pemerintah yang akan aku datangi.
Demi selembar A4 yang ga kunjung selesai berminggu-minggu.


Di ujung kursi satunya duduk Bapak-Bapak udah lumayan berumur.
Tinggi sedang, badan bisa dibilang agak sedikit kurus, kulit keriput gelap terbakar matahari.
Celana bahan hitam, sendal hitam, dan jaket kain berwarna hitam merah dengan sejumlah huruf di bagian punggung.
Beliau turun dari kereta yang berhenti setelah kereta yg aku naiki.
Duduk sekitar 10 menitan.
Sesekali terlihat memijati kakinya.


Sementara di peron seberang terlihat seorang Bapak yang lebih muda dari Bapak di sebelah ku ini.
Kaos lengan pendek dengan warna kuning pudar, celana pendek, dan sendal jepit.
Tertidur pulas bersandar pilar iklan di peron stasiun.
Di lantai, tanpa alas.



Setiap 5-15 menitan kereta berhenti dan ratusan manusia berhamburan keluar dari gerbong.
Pria, wanita. Tua, muda. Modis, sederhana.
Kebanyakan mengenakan headset, masker, atau jalan sambil melihat handphone.
Mungkin lagi mesen ojol.
Kebanyakan terlihat mengenakan ransel, yang beberapa bisa dibilang terlihat usang.
Sebagian lain dengan handbag berkulit sintetis yang banyak di jual di pasar maupun salah satu mall yang hampir setiap hari masang diskon gede2an.
Hanya 1 2 yang terlihat dengan tas ber-label internasional brand berharga jutaan rupiah.
Sama halnya dengan sepatu/sendal yang dikenakan.

Ga sedikit yang bawa ransel dengan beban yang lumayan.
Atau goodiebag dengan ukuran bervariasi dari satu orang dan orang lain.
Sepertinya kebanyakan berisi bekal makan siang.
Terlihat juga penumpang yang membawa troli (papan beroda yang ditarik tangan) yang di atasnya diletakkan tas goni plastik bentuk kotak (yang dulu waktu kuliah aku juga pake buat isi barang, berguna untuk pindahan).
Ntah apa isinya.


Lama aku duduk.
Melihat ribuan langkah cepat dan tergesa-gesa.
Ribuan langkah yang beresonansi, sarat akan tujuan yang kurang lebih sama:
belanja harian, uang sekolah anak, kredit kendaraan, dan kredit rumah


Kemudian aku teringat cuplikan video di timeline medsos yang menginterview sejumlah mahasiswa di Jabodetabek mengenai the money value of the fashion yang mereka kenakan.
Jujur aku tercengang ketika melihat clip tersebut.
Mahasiswa2 yang diinterview di clip ini, ketika di total, mulai dari kepala sampe kaki, yang mereka kenakan bisa bernilai puluhan hingga ratusan juta.
Bahkan salah satunya mengenakan jam tangan dengan harga ratusan juta.
WTF.



Dalam hati masih aja bertanya kenapa Allah menciptakan manusia.
Share:

Friday, August 31, 2018

Trivia 承: Love

Produced by Hiss Noise, Slow Rabbit & RM
Album BTS - Love Yourself 結 'Answer'



Is this love
Is this love
Sometimes I know
Sometimes I don't
The next lyrics, um
What should I write, um
Too many words circle around me
But none of them feel how I feel

I just feel it
Like the moon rises after the sun rises
Like how fingernails grow
Like trees that shed their bark once a year
That you are the one who will give meaning to my memories
Who will make a 'person' into 'love'
Before I knew you
My heart was filled with straight lines only

I'm just a human, human, human
You erode all my corners
And make me into love, love, love
We're humans, humans, humans
In that myriad of straight lines
My love, love, love
When you sit on top of it and you become my heart

I live so I love
I live so I love
(Live & love, live & love)
(Live & love, live & love)
I live so I love
I live so I love
(Live & love, live & love)
(If it's love, I will love you)

You make I to an O
I to an O
Because of you
I know why human and love sound similar
You make live to a love
Live to a love
Because of you
I know why a person should live by love

It's a long way from I to U
Fuck, JKLMNOPQRST
I crossed all the letters and I reached you
Look, mine and yours also sound the same
Though that doesn't make me you
I want to be part of your bookcase
I'd like to be involved in your novel
As a lover

I'm just a human, human, human
You erode all my corners
And make me into love, love, love
We're humans, humans, humans
In that myriad of straight lines
My love, love, love
Sit on top of it and it becomes a heart

I live so I love
I live so I love
(Live & love, live & love)
(Live & love, live & love)
I live so I love
I live so I love
(Live & love, live & love)
(If it's love, I will love you)

What if I go?
If I go, would you be sad?
If I wasn't me, what would I be?
Do you think you'll leave me after all?

Wind, wind, wind blowing by
(I just hope not)
People, people, people that will pass by
(I just hope not)
My mood is blue, blue, blue
(In my head, it's blue from top to bottom)
How much I love you
How much, much, much

You're my person, my person, my person
You're my wind, my wind, my wind
You're my pride, my pride, my pride
You're my love (my love)
One and only love (only love)

You're my person, my person, my person
You're my wind, my wind, my wind
You're my pride, my pride, my pride
You're my love (my love)
One and only love (only love)

(source:genius.com)



Note:
Love and people/human are written and pronounced almost the same in Korean language.
Love: 사랑 (sarang)
People/Human: 사람 (saram)

Wind/Breeze: 바람 (bbaram)
Pride: 자랑 (jarang)


PS.
The very sweet and touching about this song is: Namjoon has never use the word "love" or "사랑" in his previous songs and lyrics before. I remember he mentioning about this before in one of the video in Vlive (maybe?), that he has some kind of hate/fear towards the word or towards love. But here he dedicated the whole song for the word 'love', even the title.
Share:

Tuesday, July 31, 2018

Serpihan Pasir

“In everybody’s life there’s a point of no return. And in a very few cases, a point where you can’t go forward anymore. And when we reach that point, all we can do is quietly accept the fact. That’s how we survive.”
“And once the storm is over, you won’t remember how you made it through, how you managed to survive. You won’t even be sure, whether the storm is really over. But one thing is certain. When you come out of the storm, you won’t be the same person who walked in. That’s what this storm’s all about.”
― Haruki Murakami, Kafka on the Shore


Kadang aku ga ngerti kenapa aku lemah sama hal-hal kayak gini.
I mean, it's not even my problem.
But here I am, staying awake, unable to sleep, and trying to let all of this emotion go by writing this post.
So that I can stop the urge to cry and feel the misery.

Rasanya ga cuma bikin aku feeling hopeless, tapi juga bikin aku merasa restless dan nelangsa.
Jauh lebih hopeless dibanding waktu sesenggukan nonton My Mister.
Pengen teriak buat ngelepasin emosi, tapi apa daya cuma bisa netesin air mata.


Mungkin, kerna ini ga cuma di drama tapi di kehidupan nyata.
Bukan cerita baru, bahkan sebenarnya udah berlalu.
Tapi ntah lah, kok ya hidup gini amat ya.
Kalo aku yang dengar aja rasanya gini, gimana orang yang ngejalani.
Ya Allah, mungkin aku ga akan kuat.
Ngebayanginnya aja aku ga kuat.


Tapi ya memang hakekat manusia adalah makhluk yang punya kemampuan survival.
Mungkin kerna itu disebutkan bahwa "Allah ga akan ngasih cobaan yang ga bisa diatasi hamba-Nya".
Ketika kamu mampu mengatasi hal besar, tanpa kamu sadari kamu juga sudah bertambah besar untuk melaluinya.

Apalah aku ini, yang sekarang jadi ngerasa ternyata masalah-masalahku mungkin cuma serpihan pasir di lautan.
Share:

Wednesday, June 06, 2018

Ramadhan 1439 H

Udah bertahun-tahun ga ikutan tarawih berjamaah di Masjid dekat rumah.
Masjid paling dekat rumah, yang di Gg. Kopral.
Yang cuma 5 menit jalan kaki.
Biasanya, dulu, kalo tarawih, pasti ke Masjid Jl. Cipto.
Yang lebih besar. Lebih rame. Tapi lebih jauh.
15 menit jalan kaki.

Kapan ya, terakhir sholat disini.
Ga ingat.
Kayaknya dulu pernah sih disini.
Setelah marbot Masjid Jl. Cipto ganti sama sekelompok orang bersorban.
Tarawih yang tadinya 11 rakaat jadi 23 rakaat.
Trus agak beda aja sama yang dulu-dulu.
Sejak itu, kalo ga salah, udah jarang sholat disana.


Selalu suka tarawih di Siantar.
11 rakaat tapi sering ada ceramah-ceramah singkat diantara isya dan tarawih.
Sholatnya santai, ga buru-buru kayak dulu di Bogor waktu S1.
Bilal nya juga enak didengar.
Bacaannya lebih lengkap, dibanding di Bogor, ataupun di Jakarta.
Dari dulu selalu suka sama bilal tarawih.
Malah dulu semangat banget tarawih di Jl. Cipto kerna bilalnya.
Hahaha. Receh.


Semalam, topik ceramahnya tentang doa.
10 menit. Sederhana.
Bahwa doa ga selalu diijabah secara langsung, tapi bisa jadi dijawab melalui hal lain.
Bapaknya juga mengingatkan kalo berdoa yang positif-positif.
Walaupun benci sama orang, bukan berarti lantas mendoakan yang buruk-buruk untuk orang tersebut.
Termasuk dalam konteks lebih besar.
Suka sama suara lembut Bapak ustadz nya.
Suka juga sama topiknya.


Jadi keingat, beberapa malam lalu, Ibunya temen dengerin ceramah dari laptop sambil kerja di meja makan.
Ntah dari youtube atau dari mana, ku lagi bantuin masak di dapur.
Jadilah ikutan denger itu ceramah.
Ga yakin apa memang kebetulan topiknya begitu, atau memang kebetulan lagi dengerin ustadz yang memang ahli di topik ini.
Intinya dari sebagian ceramah yang terdengar, isinya membandingkan antara Islam dan Kristen.
Berat. Bahkan membahas mengenai 'Allah' dan 'Tuhan'.
Perbedaan konteksnya dalam Islam dan Kristen.
Dan, ntah ini subjektif pribadi atau gimana, sangat menekankan bahwa 'this one is right and that one is wrong'.
Dengan agak sedikit bersemangat.
Bahkan, menganjurkan pendengar untuk mencoba mengajak umat non-Muslim berdiskusi, termasuk mengenai topik tadi.
Beliau bilang agar saling memahami ajaran masing-masing.


Sebenarnya dari awal dengerin ceramahnya, udah ngerasa super gregetan.
Gregetan aja, sama tipe-tipe ceramah yang secara halus menebar kebencian model gini.
Ya buat apa sih ngebanding-bandingin.
Kenapa ga fokus di mengingatkan untuk berbuat kebaikan aja.
... and I'm fully aware that this is fully my own subjective.
Yah, mungkin memang beda audiens dan beda acara kali ya, jadi beda konteksnya.
Mbuh lah.

Paling kaget ketika dengar Bapaknya justru mengajurkan untuk mengajak diskusi.
'Wah, this is totally the opposite dari apa yang diajarkan guru agama dulu'
Dulu, guru agama, ataupun murobbiyah, menekankan banget untuk ga 'sok tau' soal agama,
terlebih ke penganut agama lain, kalo memang masih belum menguasai dengan benar.
Khawatir malah menyampaikan hal yang salah.
Hmm..
Yaudah, gitu aja.


Annyeong.
Share:

Saturday, May 26, 2018

If Only

If only we can hear each other mind
Will it be better?
Or worse?


I'm tired of trying to say the things in my head
and trying to see what other people think about

I'm not sure if words are enough
Even sometimes they make things more confusing


If only we can hear each other mind
...and understand each other without saying much


But maybe I need to hear my mind
and understand what's really going on in my head
Share: